Nabung Sejak Remaja, Seorang Nenek Buruh Tani Akhirnya Naik Haji

Nabung Sejak Remaja, Seorang Nenek Buruh Tani Akhirnya Naik Haji – Rumah ciri khas Joglo itu demikian simpel. Di dalamnya cuma tinggal Supinah (78) yang beritanya akan pergi naik haji tahun ini. Senyumnya juga selalu terkembang.

Hal seperti ini diperkokoh dengan suatu koper besar komplit dengan stiker Calon Jemaah Haji yang ada di pojok ruang memiliki ukuran 5×6 mtr. persegi yang tidak ubahnya ruangan tamu itu.

Warga Desa Ngrupit, Kecamatan Jenangan, Kabupaten Ponorogo ini mengakui suka sekali karena dapat pergi haji tahun ini. Berhaji merupakan impiannya semenjak remaja.

Semenjak remaja juga Supinah telah rajin menyisihkan hasil jerih payahnya menjadi buruh tani untuk cost haji.

Bukan hal ringan buat Supinah untuk dapat pergi haji. Diprediksikan perlu waktu sepanjang 28 tahun buat Supinah untuk pada akhirnya dapat melunasi cost hajinya.

Jangankan untuk menabung, untuk memenuhi keperluan hidupnya, Supinah ikhlas bekerja serabutan. Terlebih semenjak sepeninggal sang suami.

Tidak hanya jadi buruh tani, Supinah juga sudi bila disuruh jadi juru masak hajatan atau bersihkan ladang punya orang yang lain.

Dalam satu hari ia mengakui dapat menghimpun uang Rp 70 ribu. ” Lantas saya ambillah buat berbelanja untuk makan, bekasnya saya tabung buat naik haji, ” katanya. Yang disisihkan untuk tabungan haji sekitar Rp 10-30 ribu.

Sesudah pada akhirnya lunas, Supinah baru mendaftarkan haji pada tahun 2010 yang lalu. Semestinya Supinah sah pergi tahun kedepan. Akan tetapi karena usianya, Kemenag ditempat mengabulkan keinginan Supinah untuk pergi haji lebih awal.

Nenek yang telah mulai menyusut pendengarannya ini menyampaikan karena tidak mempunyai anak, praktis yang mengatur semua kepentingan hajinya merupakan dua keponakannya.

Siti juga mengaku walau tidak mempunyai apa-apa, Supinah pantang meminta-minta, bahkan juga tidak keberatan jika diminta bekerja oleh tetangganya.